Badan Pengatur Hilir Minyak Bumi dan Gas (BPH Migas) baru-baru ini mengumumkan penghematan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang diperkirakan mencapai hampir Rp5 triliun pada tahun 2025. Penghematan ini merupakan hasil dari pengelolaan yang optimal dan distribusi yang efisien dalam penyaluran energi di seluruh Indonesia.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menyampaikan informasi ini dalam sebuah rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI. Ia mengungkapkan bahwa penghematan tersebut meliputi sejumlah jenis bahan bakar, termasuk minyak tanah dan solar, serta jenis bahan bakar khusus penugasan.
Wahyudi juga menjelaskan bahwa penyaluran berbagai jenis BBM pada tahun lalu telah tercukupi dengan baik. Angka-angka ini menunjukan keberhasilan dalam pengelolaan subsidi yang menjadi tanggung jawab BPH Migas.
Pencapaian Realisasi Penyaluran BBM pada Tahun 2025
Wahyudi merinci bahwa realisasi untuk minyak tanah subsidi mencapai 96,75 persen dari total kuota Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ditetapkan sebesar 525 ribu kiloliter. Angka ini menunjukkan keberhasilan BPH Migas dalam menjalankan program subsidi secara efisien dan efektif.
Lebih lanjut, untuk solar subsidi, realisasinya sebesar 97,49 persen yang setara dengan 18.411 ribu kiloliter dari total kuota 18.885 ribu kiloliter untuk tahun 2025. Realisasi yang tinggi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat yang bergantung pada energi tersebut.
Sementara itu, untuk bahan bakar jenis Pertalite, realisasi penyaluran mencapai 89,86 persen, atau sekitar 28.063 ribu kiloliter dari total kuota 31.230 ribu kiloliter. Hal ini mengindikasikan bahwa pengadaan bahan bakar masih dalam batas yang aman dan memadai.
Rincian Penghematan Subsidi BBM yang Signifikan
Wahyudi mengungkapkan rincian penghematan yang signifikan untuk beberapa jenis BBM. Penghematan untuk solar subsidi diperkirakan mencapai Rp2,11 triliun dengan volume penyaluran sebanyak 473.634 kiloliter. Ini menunjukkan langkah yang diambil secara strategis untuk mengurangi beban subsidi tanpa mengorbankan ketersediaan bahan bakar.
Selain itu, penghematan untuk minyak tanah telah mencapai sekitar Rp220 miliar dengan volume penyaluran 17.056 kiloliter. Ini adalah langkah yang penting untuk memastikan ketersediaan BBM yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat.
Penghematan terbesar datang dari Pertalite, yang diperkirakan mencapai Rp2,75 triliun dengan volume penyaluran sebanyak 3.166.588 kiloliter. Penghematan ini diharapkan bisa digunakan untuk program infrastruktur dan pembangunan lainnya yang menguntungkan masyarakat.
Rencana Kuota JBT dan JBKP untuk Tahun Mendatang
BPH Migas juga telah mengumumkan penetapan kuota untuk jenis bahan bakar tertentu (JBT) dan jenis bahan bakar khusus penugasan (JBKP) untuk tahun 2026. Kuota untuk minyak tanah ditetapkan sebesar 526 ribu kiloliter, yang menunjukkan komitmen dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat.
Untuk solar, kuota yang ditentukan adalah sebesar 18.636 ribu kiloliter, sedangkan Pertalite ditetapkan sebesar 29.267 ribu kiloliter. Penetapan kuota ini bertujuan agar penyaluran bahan bakar dapat lebih terencana dan terarah di tahun-tahun mendatang.
Langkah ini diambil untuk membangun keandalan pasokan energi dan menciptakan keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan kemampuan pemenuhan dari pemerintah. BPH Migas berupaya untuk terus meningkatkan sistem manajemen dan distribusi dalam memenuhi permintaan BBM yang semakin meningkat.












