PT Pelayaran Nasional Indonesia, atau Pelni, tengah mempersiapkan berbagai strategi untuk menghadapi puncak arus mudik dan arus balik Lebaran. Dalam situasi yang mungkin dibayangi cuaca ekstrem, perusahaan ini berfokus pada faktor-faktor yang masih bisa dikendalikan dalam operasionalnya.
Direktur Utama Pelni, Tri Andayani, menekankan bahwa cuaca merupakan elemen yang tidak dapat diubah, sehingga perhatian harus diarahkan pada kesiapan infrastruktur dan armada. Persiapan menyeluruh dianggap sangat penting untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan penumpang selama perjalanan dijalankan.
“Kondisi cuaca yang buruk adalah hal di luar kendali kita,” ucap Tri. “Oleh sebab itu, fokus kami adalah memastikan dermaga, pelabuhan, dan armada kami dalam keadaan siap,” tambahnya dalam sebuah acara bincang media yang berlangsung di Amanaia Menteng.
Sinergi antara Operator dan Pengelola Pelabuhan Sangat Penting
Tri menggarisbawahi pentingnya sinergi antara operator kapal dan pengelola pelabuhan untuk menambah kelancaran operasional selama periode mudik. Kolaborasi yang intensif merupakan kunci untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan penumpang selama pelayaran.
“Kondisi pelabuhan adalah hal yang bisa dikelola oleh pengelola. Sinergi yang baik antara kami, operator kapal, dengan pihak pengelola pelabuhan perlu ditingkatkan,” ujarnya dengan tegas.
Di berbagai tahun sebelumnya, Pelni telah mengikuti pola persiapan angkutan Lebaran yang hampir serupa. Namun, tantangan terbesar terletak pada keterbatasan armada di tengah lonjakan jumlah penumpang yang signifikan saat musim mudik.
Tantangan Jumlah Armada Terkait dengan Ketersediaan Kapal
“Di Lebaran, jumlah penumpang yang ingin mudik sangat banyak, sehingga tantangan jumlah kapal pun menjadi semakin nyata,” jelas Tri. Ia menambahkan, mayoritas masyarakat Indonesia adalah Muslim, yang berkontribusi pada lonjakan tinggi saat musim mudik.
Pelni berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik dalam menghadapi lonjakan penumpang tersebut. Seluruh armada dipastikan siap beroperasi, dengan tidak ada kapal yang tertahan di galangan untuk perawatan ketika periode Lebaran tiba.
“Sebagai langkah antisipasi, semua perawatan tahunannya sudah diselesaikan jauh sebelum Lebaran. Kami tak ingin adanya kapal yang masih di galangan ketika itu,” ungkap Tri dengan penuh keyakinan.
Perawatan Kapal dan Fasilitas Penumpang yang Ditingkatkan
Perawatan lanjutan direncanakan setelah periode Lebaran berakhir, sementara perbaikan kecil akan dilakukan selama Januari hingga Februari untuk memastikan layanan tetap siap. Evaluasi dari angkutan sebelumnya juga menjadi acuan untuk pembenahan operasional.
“Perbaikan-perbaikan kecil di lokasi dan peningkatan ini akan kami lakukan sedapat mungkin agar tidak mengganggu jadwal pelayaran,” tambahnya.
Di samping aspek teknis kapal, Pelni juga berfokus pada peningkatan fasilitas penumpang untuk memberikan kenyamanan selama perjalanan laut yang panjang. Langkah ini meliputi penggantian fasilitas yang sudah tidak layak pakai.
“Kami juga memastikan toilet, keran, dan perlengkapan kabin yang tidak layak, akan diganti secepat mungkin. Segala perbaikan harus rampung sebelum puncak mudik Lebaran,” jelas Tri lebih lanjut.
“Kasur dan perlengkapan lain yang dinilai tidak layak juga akan segera diturunkan. Semua aksi ini ditargetkan selesai pada Januari-Februari sehingga kami sepenuhnya siap untuk melayani angkutan Lebaran,” tutupnya.













