Penjualan headset Vision Pro yangproduk baru dari Apple mengalami penurunan signifikan, membuat perusahaan ini terpaksa mengurangi produksinya. Terlepas dari kesuksesan penjualan produk lain seperti iPhone dan iPad, headset yang dijual dengan harga sangat tinggi ini gagal menarik minat pasar yang diharapkan.
Menurut laporan terbaru, Apple telah memangkas anggaran pemasaran headset Vision Pro hingga lebih dari 95% tahun lalu. Keputusan ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi Apple dalam meraih sukses di segmen perangkat augmented reality ini.
Meskipun perusahaan ini berhasil menjual jutaan smartphone, penjualan headset dengan harga premium mencapai US$3.499, sekitar Rp58 juta, terlihat lesu. Alasan utamanya adalah pasar yang masih ragu dan kekhawatiran tentang kenyamanan serta fungsi dari produk tersebut.
Penyebab Lesunya Penjualan Headset Vision Pro di Pasar Global
Salah satu alasan penjualan headset Vision Pro yang rendah adalah tingginya harga jualnya. Konsumen merasa bahwa investasi pada perangkat tersebut tidak terlalu sepadan dengan manfaat yang ditawarkan. Selain itu, sejumlah ulasan negatif mengenai kenyamanan penggunaan headset ini juga berkontribusi pada ketidakpastian konsumen.
Dalam laporan terbaru, grup riset pasar memperkirakan bahwa tidak lebih dari 45.000 unit headset Vision Pro yang terjual dalam kuartal terakhir tahun lalu. Angka ini sangat mengecewakan mengingat ekspektasi tinggi yang sebelumnya dicanangkan oleh Apple saat peluncurannya.
Apple juga menghadapi tantangan terkait distribusi, di mana penjualan masih terbatas pada 13 negara saja. Hal ini membuat produk ini kurang tersedia di pasar global, sehingga mengurangi populasinya dan peluang terjadinya transaksi penjualan.
Menghadapi Tantangan Pasar dan Perbandingan dengan Produk Lain
Situasi saat ini di pasar headset virtual reality juga dipengaruhi oleh perilaku konsumen yang lebih memilih produk dengan harga lebih terjangkau. Misalnya, kompetitor seperti Meta menawarkan headset yang jauh lebih murah, sehingga menjadikannya pilihan menarik bagi banyak orang. Walaupun fitur yang ditawarkan mungkin tidak sebanding, harganya membuat produk tersebut lebih mudah diakses.
Meta bahkan mengumumkan pengalihan fokus investasi dari pengembangan metaverse ke perangkat berbasis kecerdasan buatan dan wearable lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa industri teknologi juga sedang beralih dari VR menuju inovasi baru yang dianggap lebih relevan dan menarik bagi pengguna.
Pihak Apple sendiri belum memberikan deklarasi resmi mengenai perubahan strategi dan pengurangan produksi headset ini. Penundaan pengembangan generasi berikutnya dari headset menunjukkan bahwa perusahaan sedang berhati-hati dalam merespons tantangan yang ada.
Persepsi Konsumen dan Harapan Masa Depan Produk Apple
Saat Vision Pro pertama kali diluncurkan, CEO Apple, Tim Cook, menggambarkan produk ini sebagai langkah maju ke dalam era komputasi spasial. Dengan teknologi ini, pengguna disajikan pengalaman digital yang terintegrasi ke dalam dunia nyata. Namun, terlalu banyak ekspektasi justru bisa menjadi bumerang ketika pengguna merasa perangkat itu tidak memenuhi harapan.
Selain itu, banyak pengguna melaporkan bahwa headset tersebut terasa berat dan kurang nyaman saat digunakan dalam waktu yang lama. Ini menjadi faktor penting yang memengaruhi opini konsumen dan memperkecil pangsa pasar headset tersebut.
Dengan jumlah aplikasi yang tersedia juga relatif kecil—hanya sekitar 3.000 aplikasi—itu jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah aplikasi yang ada untuk iPhone saat diluncurkan. Ini menunjukkan bahwa ekosistem untuk Vision Pro mungkin belum cukup kuat untuk menarik minat yang lebih luas dari pengguna.















