Cuaca di Indonesia menjelang Ramadhan tahun ini dijadwalkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) didominasi oleh hujan. Periode musim hujan diperkirakan akan bertahan hingga akhir Februari atau awal Maret 2026, yang menandakan adanya potensi curah hujan yang cukup signifikan.
Menurut Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, ramalan cuaca menyebutkan bahwa banyak wilayah di Indonesia akan menghadapi hujan dengan intensitas yang bervariasi. Hujan ini diperkirakan akan berada dalam kategori rendah hingga menengah, yang mencakup kadar curah hujan sekitar 20 hingga 150 mm per dasarian.
Dengan melihat hasil analisis BMKG, sebagian besar daerah di Indonesia akan mengalami cuaca yang cukup lembap. Ini menunjukkan bahwa masyarakat perlu mempersiapkan diri menghadapi kondisi cuaca yang kurang bersahabat selama bulan puasa ini.
Andri menambahkan bahwa meskipun hujan berkategori rendah hingga menengah mungkin mendominasi, ada wilayah tertentu yang masih berpotensi mengalami curah hujan yang tinggi bahkan sangat tinggi. Kondisi ini perlu diwaspadai oleh masyarakat untuk menghindari dampak negatif dari cuaca ekstrem.
Perkiraan Curah Hujan Sepanjang Februari 2026
Berdasarkan informasi yang diberikan oleh BMKG, curah hujan selama bulan Februari akan bervariasi tergantung wilayah. Hujan berkategori rendah hingga menengah akan banyak terjadi di berbagai kawasan, tetapi ada juga area lain yang menghadapi kemungkinan hujan dengan intensitas lebih tinggi.
Beberapa daerah yang berisiko mengalami hujan dengan kategori tinggi mencakup wilayah Banten, Jawa Barat, dan beberapa bagian dari Jawa Tengah. Hal tersebut menjadikan penting bagi masyarakat untuk memperhatikan prakiraan cuaca setempat, terutama menjelang Ramadhan.
Selain itu, Andri Ramdhani menegaskan bahwa hujan kategori tinggi hingga sangat tinggi dapat terjadi di sejumlah lokasi, termasuk Pulau Timor, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, serta wilayah di Papua. Faktor geografis berpengaruh pada sebaran intensitas curah hujan ini.
Keberadaan fenomena cuaca juga membawa dampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Pertanian, transportasi, dan kegiatan lainnya mungkin harus diatur ulang agar dapat menyesuaikan dengan kondisi cuaca yang ada.
Pola Musim Hujan di Indonesia dan Pengaruhnya
Pola musim hujan yang terjadi di Indonesia diatur oleh posisi geografis dan perubahan iklim. Negara ini terletak di jalur equator, menjadikannya rentan terhadap pergeseran musim yang diakibatkan oleh fenomena alam seperti El Niño atau La Niña.
Berdasarkan data yang ada, sebagian besar wilayah di selatan ekuator, seperti Pulau Jawa dan Bali, diperkirakan masih akan mengalami hujan yang dominan hingga Maret. Ini menunjukkan bahwa Ramadhan yang jatuh di pertengahan Februari berpeluang besar diiringi oleh hujan, yang dapat mempengaruhi kegiatan beribadah umat Muslim.
Secara umum, Indonesia mengalami dua musim besar, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan diperkirakan akan memudarkan ketika memasuki bulan April hingga Mei, menggantikan dengan musim kemarau yang diharapkan lebih stabil.
Namun, perilaku iklim yang tak terduga seringkali membawa perubahan pada pola ini. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat tentang potensi cuaca ekstrem sangat dibutuhkan agar dapat menghadapi berbagai kemungkinan dengan lebih baik.
Persiapan Menghadapi Musim Hujan Selama Ramadhan
Dalam menghadapi musim hujan yang diperkirakan akan berkepanjangan, masyarakat sebaiknya memperhatikan beberapa langkah persiapan. Terutama bagi yang menjalani ibadah puasa, mengantisipasi kemungkinan cuaca buruk sangat penting demi keselamatan dan kenyamanan.
Pertama-tama, masyarakat disarankan untuk memantau perkembangan cuaca secara berkala. Menggunakan aplikasi atau sumber terpercaya untuk mendapatkan informasi terbaru dapat membantu dalam mengambil keputusan yang tepat, terutama dalam berkegiatan di luar rumah.
Kedua, penting bagi masyarakat untuk memastikan lingkungan tempat tinggal dalam keadaan aman dari banjir. Bersihkan saluran air dan pastikan tidak ada sampah yang menyumbat aliran air agar dapat mengurangi risiko banjir.
Ketiga, sediakan perlengkapan darurat di rumah seperti senter, makanan instan, dan obat-obatan. Persiapan ini dapat berguna jika cuaca ekstrem datang secara tiba-tiba dan mengganggu aktivitas sehari-hari.














