Dormansi

Dormansi: Pengertian, Penyebab, Klasifikasi, Bentuk dan Cara Pemecahan Dormansi

Dormansi: Pengertian, Penyebab, Klasifikasi, Bentuk dan Cara Pemecahan Dormansi – Dormansi adalah suatu keadaan berhenti tumbuh yang dialami organisme hidup atau bagiannya sebagai tanggapan atas suatu keadaan yang tidak mendukung pertumbuhan normal. Dengan demikian, dormansi merupakan suatu reaksi atas keadaan fisik atau lingkungan tertentu. Pemicu dormansi dapat bersifat mekanis, keadaan fisik lingkungan, atau kimiawi. Pada beberapa jenis varietas tanaman tertentu, sebagian a tau seluruh benih menjadi dorman sewaktu dipanen, sehingga masalah yang sering dihadapi oleh petani atau pemakai benih adalah bagaimana cara mengatasi dormansi tersebut.

Pengertian Dormansi

Dormansi dapat didefenisikan sebagai suatu keadaan pertumbuhan dan metabolisme yang terpendam, dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak baik a tau oleh faktor dari dalam tumbuhan itu sendiri. Seringkali banyak tumbuhan yang dorman gagal tumbuh meskipun berada dalam kondisi yang ideal.

Dormansi merupakan suatu mekanisme untuk mempertahankan diri terhadap suhu yang sangat rendah (membeku) pada musim dingin, atau kekeringan di musim panas yang merupakan bagian penting dalam peijalanan hidup tumbuhan tersebut.

Dengan demikian, dormansi merupakan suatu reaksi atas keadaan fisik atau lingkungan tertentu. Pemicu dormansi dapat bersifat mekanis, keadaan fisik lingkungan, atau kimiawi.

Banyak biji tumbuhan budidaya yang menunjukkan perilaku ini. Penanaman benih secara normal tidak menghasilkan perkecambahan a tau hanya sedikit perkecambahan. Perlakuan tertentu perlu dilakukan untukmematahkan dormansi sehingga benih menjadi tanggap terhadap kondisi yang kondusif bagi pertumbuhan. Bagian tumbuhan yang lainnya yang juga diketahui berperilaku dorman adalah kuncup.

Penyebab Terjadinya Dormansi

Benih yang mengalami dormansi ditandai oleh :

  • Rendahnya/tidak adanya proses imbibisi air.
  • Proses respirasi tertekan/terhambat.
  • Rendahnya proses mobilisasi cadangan makanan.
  • Rendahnya proses metabolisme cadangan makanan.

Ada pun yang menyebabkan benih tersebut mengalami Dormansi adalah:

1. Faktor Lingkungan

Salah satu faktor penting yang merangsang dormansi adalah fotoperioda. Hari pendek merangsang banyak tumbuhan kayu menjadi dorman. Dalam hal respon perbungaan, daun harus diinduksi untuk menghasilkan zat penghambat (inhibitor) atau hormone, yang diangkut ke tunas-tunas dan menghambat pertumbuhan. Penghambatan ini dapat dihilangkan dengan induksi hari panjang atau dengan memberikan asam giberelat.

Pada dasarnya pendinginan secara sendiri tidak penting dalam menginduksi dormansi, dan dormansi tidak akan diinduksi dengan hari pendek apabila suhu terlalu rendah untuk melaksanakan metabolisme aktif. Tetapi pada kenyataannya terlihat bahwa pendingin merupakan prasyarat yang sangat penting untuk membuka dormansi. Kurangnya air penting dalam memulai dormansi pada beberapa tumbuhan, terutama pada dormansi untuk mempertahankan hidup pada keadaan panas dan kering. Selanjutnya, berkurangnya nutrient terutama nitrogen, dapat merupakan penyebab teljadinya dormansi pada beberapa tumbuhan.

2. Asam Absitat (ABA)

Ahli fisilogi Inggris, P.F.Wareing dkk, menemukan bahwa ekstrak daun Betula pubscens yang dipelihara dalam kondisi hari pendek, yang mengandung zatyang sangat menghambatperpanjangan koleoptil Avena. Mereka menemukan bahwa pembentukan zat penghambat tersebut, teljadi sebelum dormansi beljalan. Pada tahun 1963, mereka berhasil mengisolasi zat penghambat tersebut dari tanaman Acer pseudoplatanus, yang mereka sebut dengan nama dormin. Sementara itu kelompok lain di Amerika di bawah pimpinan F.T.Addiccot, yang mempelajari proses pentuaan, yang mereka sebut sebagai absisin II. Secara kebetulan absisin II ini dikemukakan beberapa hari sebelum dormin, yang kemudian diketahui temyata kedua zat tersebut sekarang dikenal dengan nama asam absisat (ABA). Asam absisat teljadi secara luas pada bagian tumbuhan dan terlibat dalam dormansi.

Berbagai gejala dormansi dan penuaan yang dapat diinduksi dengan pemberian ABA yaitu: memelihara dormansi, menghambat perkecambahan, menghambat sintesis enzim pada biji yang diinduksi giberelin, menghambat perbungaan, pengguguran tunas, pengguguran buah, penuaan daun, dsb.

3. Interaksi ABA Dengan Zat Tumbuh Lainnya

Pemberian ABA harus terus menerus bila efek yang diinginkan tetap terpelihara, apabila pemberianABA dihentikan, pertumbuhan dan metabolisme yang aktif akan kembali. Hal ini akan disebabkan oleh beberapa zat yang merangsang pertumbuhan akan mengantagoniskan efekABA. Banyak percobaan menunjukkan bahwa asam giberelat (GA) memberi efek mengantagoniskan ABA. Apabila organ yang dorman, misalnya biji Lactuca yang disimpan di tempat gelap dan diberi ABA ekstra, pemberian GA dengan konsentrasi yang tinggi sekalipun, tidak akan menanggulangi penghambatan oleh ABA.

Dalam keadaan seperti ini, pemberian kinetin dapat melawan efek ABA, dan GA dapat merangsang perkecambahan.

  Syarat-Syarat dan Faktor Keberhasilan Pembangunan Ekonomi

Hubungan antara GA dan ABA ini sangat menarik. GA dapat merangsang tumbuhan hari panjang (long day) berbunga, sebalihya ABA memberikan efek kebalikannya. Mesupun ABA dapat meran¿sang perbungaan hari pendek, tetapi prosesnya tidaV sama dengan antesin seperti dikemukakan oleh Chailakhyan. Dayam banyak hal kedua ini memberikan pengaruh yang be90eda dauu berlawanar, tetapi tid± selamanya selalu mengantagoniskan satu sava lun,

Tipe-tipe Dormansi (Klasifikasi Dormansi)

Secara umum menurut Aldrich (1984) Dormansi dikelompol&an menjadi 2 tipe yaitu:

  • Innate donnansi (dormansi primer)
  • induced dormansi (dormansi sekunder)

A. Dormansi Primer

Dormansi prirner adalah dcnnansi yang paling sering terjadi, terdiri dari dua sifat:

  • Dormansi eksogenous yaitu kondisi dimana komponen penting perkecambahan tidak tersedia bagi benih dan menyebabkar kegagalan dalanl perkecarnbahar. Tipe dorúiansi tersebvt berhubvngan dengan sifat fisik dari kulit benih serta faktor lingkvngan selama perkecambahan
  • Dormansi endosenous yaitu dormansi yzuug disebabkan karena sifatsifat tertentu yang melekat pada benih, seperti adanya kandungan inhibitor yang berlebih pada benih, embrio benih yang rudimenter dan  sensitivi€as terhadap suhu dan cahaya.

B. Dormansi sekunder

Dormansi sekunder adalah sifat dormansi yang terjadi karena dihilangkannya satu atau lebih faktor penting perkecambahan.. Dormansi sekvnder disini adalah benih-benih yang pada keadaan normal maupun berkecambah, tetapi apabila dikenakan pada suatu keadaan yang tidak menguntungkan selama beberapa waktu dapat menjadi kehilangan kemampuannya untuk berkecambah. Kadang-kadang dormansi sekunder ditimbulkan bila benih diberi semua kondisi yang dibutuhkan untuk berkecambah kecuali satu. Misalnya kegagalan memberikan cahaya pada benih yang membutuhkan cahaya.

Diduga dormansi sekunder tersebut disebabkan oleh perubahan fisik yang terjadi pada kulit biji yang diakibatkan oleh pengeringan yang berlebihan sehingga pertukaran gas-gas pada saat imbibisi menjadi lebih terbatas.

Sedangkan menurut Sutopo (1985) Dormansi dikelompokkan menjadi 2 tipe berdasarkan mekanisme dormansi di dalam biji, yaitu :

  • Dormansi Fisik
  • Dormansi Fisiologis

A. Dormansi Fisik

Dormansi fisik disebabkan oleh pembatasan struktural terhadap perkecambahan biji, seperti kulit biji yang keras dan kedap sehingga menjadi penghalang mekanis terhadap masuknya air atau gas-gas ke dalam biji. Dengan kata lain, dormansi yang mekanisme penghambatannya disebabkan oleh organ biji itu sendiri.

Beberapa penyebab dormansi fisik adalah:

  1. Impermeabilitas Kulit Biji Terhadap AirBenih-benih yang termasuk dalam type dormansi ini disebut sebagai “Benih keras” karena mempunyai kulit biji yang keras dan strukturnya terdiri dari lapisan sel-sel serupa palisade berdinding tebal terutama di permukaan paling luar. Dan bagian dalamnya mempunyai lapisan lilin dan bahan kutikula.
  2. Resistensi Mekanis Kulit Biji Terhadap Pertumbuhan EmbrioDisini kulit biji cukup kuat sehingga menghalangi pertumbuhan embrio. Jika kulit biji dihilangkan, maka embrio akan tumbuh dengan segera.
  3. Permeabilitas yang Rendah dari Kulit Biji Terhadap Gas-gasPada dormansi ini, perkecambahan akan terjadi jika kulit biji dibuka atau jika tekanan oksigen di sekitar benih ditambah. Pada benih apel misalnya, suplai oksigen sangat dibatasi oleh keadaan kulit bijinya sehingga tidak cukup untuk kegiatan respirasi embrio. Keadaan ini terjadi apabila benih berimbibisi pada daerah dengan temperatur hangat.

B. Dormansi Fisiologis

Dormansi Fisiologis dapat disebabkan oleh sejumlah mekanisme, tetapi pada umumnya disebabkan oleh zat pengatur tumbuh, baik yang berupa penghambat maupun perangsang tumbuh.

Beberapa penyebab dormansi fisiologis adalah :

  1. Immaturity EmbryoProses fisiologis dalam biji terhambat oleh kondisi embrio yang tidak/ belum matang. Pada dormansi ini perkembangan embrionya tidak secepat jaringan sekelilingnya sehingga perkecambahan benih-benih yang demikian perlu ditunda. Sebaiknya benih ditempatkan pada tempe-ratur dan kelembaban tertentu agar viabilitasnya tetap terjaga sampai embrionya terbentuk secara sempurna dan mampu berkecambah.
  2. After RipeningBenih yang mengalami dormansi ini memerlukan suatu jangkauan waktu simpan tertentu agar dapat berkecambah, atau dikatakan membutuhkan jangka waktu “After Ripening”. After Ripening diartikan sebagai setiap perubahan pada kondisi fisiologis benih selama penyimpanan yang mengubah benih menjadi mampu berkecambah. Jangka waktu penyimpanan ini berbeda-beda dari beberapa hÜi sampai dengan beberapa tahun, tergantung dari jenis benihnya.
  3. PhotodormansiProses fisiologis dalam biji terhambat oleh keberadaan cahaya. Tidak hanya dalamjumlah cahaya yang diterima tetapi juga intensitas cahaya dan panjang hari.

Cara-cara Pemecahan Dormansi

Untuk mengetahui dan membedakan/memisahkan apakah suatu benih yang tidak dapat berkecambah adalah dorman atau mati, maka dormansi perlu dipecahkan. Masalah utama yang dihadapi pada saat pengujian daya tumbuh/kecambah benih yang dormansi adalah bagaimana cara mengetahui dormansi, sehingga diperlukan cara-cara agar dormansi dapat dipersingkat. Ada beberapa cara yang telah diketahui adalah :

a. Dengan Perlakuan Mekanis

Diantaranya yaitu dengan Skarifikasi. Skarifikasi mencakup cara-cara seperti mengkikir/menggosok kulit biji dengan kertas amplas, melubangi kulit biji dengan pisau, memecah Idit biji maupun dengan perlakuan goncangan untuk benih-benih yang memiliki sumbat gabus. Tiljuan dari perlakuan mekanis ini adalah untuk melemahkan kulit biji yang keras sehingga lebih permeabel terhadap air atau gas.

b. Dormansi yang Disebabkan oleh Hambatan Metabolis pada Embrio

Dormansi ini dapat disebabkan oleh hadirnya zat penghambat perkecambahan dalam embrio. Zat-zat penghambat perkecambahan yang diketahui terdapat pada tanaman antara Iain : ammonia, abcisic acid, benzoic acid, ethylene, alkaloid, alkaloids lactone (counamin) dll. Counamin diketahui menghambat kerja enzim-enzim penting dalam perkecambahan seperti alfa dan beta amilase. Tipe dormansi Iain selain dormansi fisik dan fisiologis adalah kombinasi dari beberapa dormansi. Tipe dormansi ini disebabkan oleh lebih dari satu mekanisme. Sebagai contoh adalah dormansi yang disebabkan Oleh kombinasi dari immaturity embrio, kulit biji indebiscent yang membatasi masuknya 02 dan keperluan akan perlakuan chilling.

  Syarat-Syarat dan Faktor Keberhasilan Pembangunan Ekonomi

c. Dengan Perlakuan Kimia

Tujuan dari perlakuan kimia adalah menjadikan agar kulit biji lebih mudah dimasuki air pada waktu proses imbibisi. Larutan asam kuat seperti asam sulfat, asam nitrat dengan konsentrasi pekat membuat kulit biji menjadi lebih lunak sehingga dapat dilalui Oleh air dengan mudah.

  • Sebagai contoh perendaman benih ubi jalar dalam asam sulfat pekat selama 20 menit sebelum tanam.
  • Perendaman benih padi dalam HN03 pekat selama 30 menit.
  • Pemberian gibberelin pada benih terong dengan dosis 100 – 200 PPM.

Bahan kimia Iain yang sering digunakan adalah potassium hidrokside, asam hidrokhlorit, potassium nitrat dan Thiourea. Selain itu dapat juga digunakan hormon tumbuh antara Iain: cytokinin, gibberelin dan iuxil (IAA).

d. Perlakuan Perendaman dengan Air

Perlakuan perendaman di dalam air panas dengan tujuan memudahkan penyerapan air oleh benih. Caranya yaitu: dengan memasukkan benih ke dalam air panas pada suhu 60-70 oc dan dibiarkan sampai air menjadi dingin, selama beberapa waktu. Untuk benih apel, direndam dalam air yang sedang mendidih, dibiarkan selama 2 menit lalu diangkat keluar untuk dikecambahkan.

e. Perlakuan dengan suhu

Cara yang sering dipakai adalah dengan memberi temperatur rendah pada keadaan lembab (Stratifikasi). Selama stratifikasi terjadi sejumlah perubahan dalam benih yang berakibat menghilangkan bahan-bahan penghambat perkecambahan atau terjadi pembentukan bahan-bahan yang merangsang pertumbuhan. Kebutuhan stratifikasi berbeda untuk setiap jenis tanaman, bahkan antar varietas dalam satu famili.

f. Perlakuan dengan Cahaya

Cahaya berpengaruh terhadap prosentase perkecambahan benih dan laju perkecambahan. Pengaruh cahaya pada benih bukan saja dalamjumlah cahaya yang diterima tetapi juga intensitas cahaya dan panjang hari (http:// www.tanindo.com, 2009).

Dormansi benih saga dapat dipecahkan dengan perlakuan skarifikasi (pengikisan kulit benih). Dengan perlakuan tersebut, daya berkecambah benih dapat mencapai 97% dibandingkan kontrol yang hanya 6% (Hasanah et ali, 2006).

Bentuk-bentuk Dormansi

a. Kulit biji impermeabel terhadap air/02 (Oksigen)

  • Bagian biji yang impermeabel: membran biji, kulit biji, nucellus, pericarp, endocarp
  • Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-macam substansi (misalnya cutin, suberin, lignin) pada membran.
  • Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun lingkungan. Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan dengan skarifikasi mekanik.
  • Bagian biji yang mengatur masuknya air ke dalam biji: mikrofil, kulit biji, raphe/hilum, strophiole; adapun mekanisme higroskopiknya diatur oleh hilum.
  • Keluar masuknya 02 pada biji disebabkan oleh mekanisme dalam kulit biji. Dormansi karena hambatan keluar masuknya 02 melalui kulit biji ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan pemberian larutan kuat.

b. Biji membutuhkan suhu rendah

Biasa terjadi pada spesies daerah temperate, seperti apel dan Familia Rosaceae. Dormansi ini secara alami terjadi dengan cara: biji dorman selama

musim gugur, melampaui satu musim dingin, dan baru berkecambah pada musim semi berikutnya. Dormansi karena kebutuhan biji akan suhu rendah ini dapat dipatahkan dengan perlakuan pemberian suhu rendah, dengan pemberian aerasi dan imbibisi (Anonim, 2008).

Ciri-ciri biji yang mempunyai dormansi ini adalah:

  • jika kulit dikupas, embrio tumbuh
  • embrio mengalami dormansi yang hanya dapat dipatahkan dengan suhu rendah
  • embrio tidak dorman pada suhu rendah, namun proses perkecambahan biji masih membutuhkan suhu yang lebih rendah lagi
  • perkecambahan terjadi tanpa pemberian suhu rendah, namun semai tumbuh kerdil
  • akar keluar pada musim semi, namun epikotyl baru keluar pada musim semi berikutnya (setelah melampaui satu musim dingin)

c. Biji Bersifat Light Sensitive

Cahaya mempengaruhi perkecambahan dengan tiga cara, yaitu dengan intensitas (kuantitas) cahaya, kualitas cahaya (panjang gelombang) dan fotoperiodisitas (panjang hari).

d. Kuantitas Cahaya

Biji-bijian dari banyak spesies tidak akan berkecambah pada keadaan gelap, biji-biji itu memerlukan rangsangan cahaya. Karena itu kelihatannya perkecambahan yang dikendalikan cahaya merupakan satu adaptasi tanaman yang tidak toleran terhadap penaungan. Cahaya sendiri memiliki suatu intensitas, kerapatan pengaliran atau intensitas menunjukkan pengaruh primernya terhadap fotosintesis dan pengaruh sekundernya pada morfogenetika pada intensitas rendah, tetapi sebagian memerlukan energi yang lebih besar (Zhamal, 2008).

Cahaya dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan perkecambahan pada biji-biji yang positively photoblastic (perkecambahannya dipercepat oleh cahaya); jika penyinaran intensitas tinggi ini diberikan dalam durasi waktu yang pendek. Hal ini tidak berlaku pada biji yang bersifat negatively photoblastic (perkecambahannya dihambat oleh cahaya) (Elisa, 2006).

Biji positively photoblastic yang disimpan dalam kondisi imbibisi dalam gelap untukjangka waktu lama akan berubah menjadi tidak responsif terhadap

  Syarat-Syarat dan Faktor Keberhasilan Pembangunan Ekonomi

cahaya, dan hal ini disebut skotodormant. Sebaliknya, biji yang bersifat negatively photoblastic menjadi photodormant jika dikenai cahaya. Kedua dormansi ini dapat dipatahkan dengan temperatur rendah (Elisa, 2006).

e. Kualitas Cahaya

Yang menyebabkan terjadinya perkecambahan adalah daerah merah dari spektrum (red; 650 nm), sedangkan sinar infra merah (far red; 730 nm) menghambat perkecambahan. Efek dari kedua daerah di spektrum ini adalah mutually antagonistic (sama sekali bertentangan): jika diberikan bergantian, maka efek yang terjadi kemudian dipengaruhi Oleh spektrum yang terakhir kali diberikan. Dalam hal ini, biji mempunyai 2 pigmen yang photoreversible (dapat berada dalam 2 kondisi alternatif):

  • P650 : mengabsorbir di daerah merah
  • P730 : mengabsorbir di daerah infra merah

Jika biji dikenai sinar merah (red; 650 nm), maka pigmen P650 diubah menjadi P730. P730 inilah yang menghasilkan sederetan aksi-aksi yang menyebabkan terjadinya perkecambahan. Sebaliknyajika P730 dikenai sinar infra merah (far-red; 730 nm), maka pigmen berubah kembali menjadi P650 dan terhambatlah proses perkecambahan (Elisa, 2006).

f. Photoperiodisitas

Respon dari biji photoblastic dipengaruhi oleh temperatur:

  • Pemberian temperatur 10-200C : biji berkecambah dalam gelap  
  • Pemberian temperatur 20-300C: biji menghendaki cahaya untuk berkecambah
  • Pemberian temperatur >350C: perkecambahan biji dihambat dalam gelap atau terang

Kebutuhan akan untukperkecnmbahan dapat diganti oleh temperatur yang diubah-ubah. Kebutuhan akan cahaya untuk pematahan dormansi juga dapat digantikan oleh zat kimia seperti RW3, thiourea dan asam giberelin (Agrica, 2009).

Teknik Pematahan Dormansİ Bijİ

Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimadk dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embryo.

Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perawatan awal pada benih, yang ditujukan untuk mematahkan dormansi, serta mempercepat terjadinya perkecambahan biji yang seragam (Schmidt, 2000). Upaya ini dapat berupa pemberian perlakuan secara fisis, mekanis, maupun chemis. Hartmann (1997) mengklasifikasikan dormansi atas dasar penyebab dan metode yang dibutuhkan untuk mematahkannya (Agrica 2009). Di bawah ini adalah tabel tipe-tipe dari dormansi beserta metode pematahan dormansi.

Tipe
Dormansi
KarakteristikContoh SpesiesMetode Pematahan Dormansi
Alami | Buatan
Immature embryoBenih secara fisioloğs belum mampu berkecambah, karena embry belum masak walaupun biji sudahFraxinus excelthr, Ginkgo biloba, Gnetum pemonPematangan secara alami setelah biji disebarkanMelanjutkan proses fisiologis pemasakan embryo setelah biji mencapai masa lewatmasak (afterri enin )
Dormansi MekanisPerkembangan embryo secara fişis terhambat karena adanya kulit biji/ buah             kerasPteroarpus, Terminalia spp, Melia volkensiiDekomposisi bertahap pad smıktur yang kerasPeretakan mekank
Dormansi Fişisimbibisi/penyerap an air terhalang oleh lapisan kulit biji/buah yang im ermeabelBeberapa Legum & MyrtaceaeFluktuasi suhuSkarifikasi mekanis, pemberian air panas atau bahan kimia
Dormansi ChemisBuah atau biji mengandung zat penghambat mical             compound) yang menghambat perkecambahanBuah fleshy (berdaging)Pencucian (leaching) oleh air, dekomposisi bertahap pada jaringan buahMenghilangka n jaringan buah dan mencuci bijinya dengan air
Foto DormansiBiji gagal berkecambah tanpa adanya pencahayaan yang cukup. Dipengaruhi oleh mekanisme Bioldmia fitolaomSebagian besar spesies temperate, tumbuhan pioneer tropika humida sepe Dormansi: Pengertian, Penyebab, Klasifikasi, Bentuk dan Cara Pemecahan Dormansieucalyptus dan S athodePencahayaanPencahayaan
Thermo dormansiPerkecambahan rendah tanpa adanya perlakuan dengan suhu tertentuSebagian besar spesies temperate, tumbuhan pioneer daerah tropis-subtropis kering, tumbuhan pioneer tropika humidaPenempatan pada suhu rendah di musim dingin Pembakaran Pemberian suhu yang berfluktuasiStratifikasi atau pemberian perlakuan suhu rendah Pemberian suhu tinggi suhu berfluktuasi

Penuaan dan Mati

TUmbuhan dan bagian-bagiannya berkembang terus menerus, dari mulai perkecambahan sampai mati. Bagian aldlir dari proses perkembangan, dari dewasa sampai hilangnya pengorganisasian dan fungsi, diberi istilah senesen atau penuaan.

a. Aspek Metabolik Senessen

Pada tahap sel, penuaan berjalan dengan terjadinya penyusutan struktur dan rusaknya membran subseluler. Diduga bahwa vakuola bertindak sebagai lisosom, mengeluarkan enzim-enzim hidrolitik yang akan mencerna materi sel yang tidak diperlukan lagi. Penghancuran tonoplas telah menyebabkan enzim-enzim hidrolitik dibebaskan ke dalam sitoplasma. Sementara itu bagian

dalam struktur kloroplas dan mitokondria mengalami penyusutan sebelum membran luamya dirusak. Proses degradasi yang terjadi pada organel, dimulainya sama seperti yang terjadi pada sel.

Perubahan yang jelas telah terjadi dalam metabolisme dan kandungan dalam organ yang mengalami penuaan. Telah terjadi pengurangan DNA, RNA, Protein, ion-ion anorganik dan berbagai macam nutrien organik. Fotosintesis berkurang sebeluın senesen dimulai dan ini mungkin disebabkan menurunnya permintaan akan hasil fotosintesis. Segera setelah itü klimakterik dalam respirasi terlihat dan nitrogen terlarut meningkat sebagai akibat dirombaknya protein.

b. Pengaruh Faktor Pertumbuhan

Sitoldnin dapat menghilangkan atau memperlambat proses penuaan. Mekanisme kerja sitokinin dalam proses ini masih belum jelas, tetapi ada petunjuk dari percobaan Mothes yang menunjukkan bahwa setetes sitokinin yang diberikan pada daun, telah menyebabkan terjadinya mobilisasi nutrien organik dan anorganik menuju daerah sekitar daun yang diberi sitokinin. Tapi masih belum jelas, apakah peningkatan nutrisi sebagai penyebab langsung permudaan kembali atau sitoldnin penyebab terjadinya beberapa peristiwa yang menghasilkan permudaan kembali dan mobilisasi nutrisi.

Tidak semua tumbuhan memberikan respon terhadap hormon yang sama. Sitoldnin lebih efektif dalam menahan penuaan pada tumbuhan basah, sedangkan giberelin lebih efektif menahan senesen pada Taraxacum officinale dan Frainus. Kadar ğberelin endogen akan turun dengan cepat selama senesen pada daun. Auksin (IAA dan 2,4 D) dapat menghalangi senesen pada tumbuhan tertentu. Etilen adalah homon yang secara jelas merangsang kuat senesen pada banyak jaringan.

Absisi

Absisi yang terjadi pada daun dan buah menıpakan contoh senesen yang jelas. Daun tidak rontok demildan saja pada waktu mati. Suatu daerah pembelahan sel yang disebut daerah absisi, berkembang dekat pangkal tangkai daun, sehingga sejumlah dinding sel melintang tegak lurus terhadap sumbu panjang tangkai daun terbentuk.

Pektinase dan selulase dirangsang pembentukannya pada sel-sel di daerah absisi, dan akan melarutkan lamela tengah dinding yang melintang tadi, sehingga tangkai daun lepas. Hubungan ikatan pembuluh yang terputus akan tersumbat dengan dibentuknya tilosa, yaitu suatu zat sejenis ‘gum’ dan dilapisi sel-sel gabus. Dalam proses ini dua peristiwa terlibat, yaitu pembelahan sel dan induksi hidrolase. Kedua proses ini merupakan proses metabolisme yang aktif dan oleh karenanya merupakan bagian yang terprogram dalam perkembangan tumbuhan.

Posts created 8

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas