Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dicky Kartikoyono, mengungkapkan rencananya untuk memperkuat digitalisasi ekosistem pembayaran di hadapan Komisi XI DPR RI. Langkah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju target 8 persen yang sudah ditetapkan.
Dicky, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran, menjelaskan visinya yang berjudul “Mengukir Sejarah Digital untuk Indonesia Emas”. Dia ingin berkontribusi dalam pencapaian Asta Cita pemerintah yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dalam rapat dengar pendapat umum, Dicky menekankan pentingnya digitalisasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia percaya bahwa inovasi di sektor keuangan ini bisa menjadi pendorong utama bagi perekonomian nasional.
Digitalisasi Sebagai Pendorong Pertumbuhan Ekonomi di Era Modern
Dicky menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan. Sejak peluncuran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pada tahun 2019, tingkat adopsi transaksi digital meningkat pesat.
Jumlah total transaksi digital ini mencapai 1,6 quadrillion, yang menunjukkan meningkatnya minat dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital.
Tantangan dan Peluang dalam Digitalisasi Ekonomi
Meskipun tren positif terlihat jelas, Dicky mengingatkan bahwa ada berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh perekonomian nasional. Tantangan-tantangan tersebut meliputi risiko geopolitik, polarisasi sosial, risiko siber, dan pelemahan daya beli masyarakat.
Menurutnya, digitalisasi merupakan salah satu jawaban untuk menghadapi tantangan di atas. Ia menegaskan bahwa transformasi digital bisa menjadi game changer yang mampu mengatasi masalah-masalah tersebut.
Komitmennya adalah untuk menegakkan pilar digitalisasi sebagai solusi utama dalam keberlanjutan ekonomi negara di masa depan.
Proyeksi Pertumbuhan Transaksi Digital dalam Lima Tahun ke Depan
Dicky juga menyampaikan proyeksi bahwa volume pertumbuhan transaksi digital di Indonesia dapat mencapai Rp147,3 miliar dalam waktu lima tahun. Ini setelah tahun ini diperkirakan tumbuh sekitar Rp37 miliar.
Dengan pertumbuhan yang signifikan dalam sektor digital ini, dukungan dari Bank Indonesia diharapkan semakin meningkat untuk memfasilitasi keberlangsungan transaksi digital di masyarakat.
Hal ini tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan jumlah transaksi, tetapi juga untuk memastikan bahwa sistem pembayaran di Indonesia tetap aman dan efisien.















