Pada tahun 2026, umat Muslim di seluruh dunia akan mempersiapkan diri untuk menyambut bulan suci Ramadan yang merupakan bulan penuh berkah. Menariknya, penentuan awal Ramadan kali ini diperkirakan akan mengalami perbedaan, yang berpotensi memicu diskusi di kalangan masyarakat dan organisasi keagamaan.
Pakar astronomi, Thomas Djamaluddin, mengungkapkan bahwa perbedaan kriteria penentuan hilal akan menyebabkan awal bulan puasa terbagi menjadi dua tanggal, yakni 18 dan 19 Februari. Diskusi mengenai perbedaan ini penting untuk menjaga kesatuan umat serta memahami peran ilmu pengetahuan dalam agama.
Penentuan Hilal dan Proses Astronomi yang Terlibat
Penentuan awal bulan hijriah sangat bergantung pada posisi bulan dan matahari, serta kriteria yang digunakan untuk melihat hilal. Menurut Thomas, pada saat maghrib 17 Februari 2026, posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS yang disepakati oleh pemerintah dan sebagian besar ormas Islam di Indonesia.
Kriteria MABIMS menuntut agar tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Pada tanggal tersebut, posisi hilal di wilayah Asia Tenggara masih belum memenuhi parameter ini, sehingga banyak yang berpendapat bahwa Ramadan akan jatuh pada 19 Februari.
Fakta astronomi menunjukkan bahwa pada waktu tersebut, situasi berbeda dapat terjadi di tempat lain. Di wilayah Amerika, misalnya, hilal sudah memenuhi syarat berdasarkan kriteria yang digunakan oleh beberapa ormas Islam, termasuk kriteria Turki.
Perbedaan Antara Metode Hisab dan Rukyat
Salah satu sumber perbedaan ini adalah metode yang digunakan oleh Muhammadiyah dan pemerintah. Muhammadiyah cenderung menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yang lebih berorientasi pada perhitungan astronomis. Metode ini dapat memberikan prediksi yang lebih awal dan terukur seputar penentuan tanggal awal Ramadan.
Sementara itu, pemerintah bersama Nahdlatul Ulama lebih mengutamakan metode rukyat atau pengamatan langsung hilal. Metode ini mengedepankan prinsip-prinsip observasi yang langsung, sehingga sering kali ditentukan pada saat-saat terakhir menjelang awal bulan puasa.
Konflik antara kedua metode ini memunculkan diskusi bulanan yang kerap membuat umat Islam bingung. Namun, terdapat keharmonisan memungkinkan bahwa setiap metode memiliki keunggulan dan keunikan masing-masing dalam menanggapi pertanyaan yang sangat mendasar ini.
Pengumuman Awal Ramadan oleh Kementerian Agama
Kementerian Agama Republik Indonesia biasanya akan mengadakan sidang isbat untuk menentukan awal bulan Ramadan secara resmi. Sidang ini melibatkan para ahli astronomi, ormas Islam, dan ulama untuk mencapai kesepakatan yang diharapkan dapat diakui oleh semua pihak.
Sebagai bagian dari agenda tahunan, pengumuman ini sangat dinantikan oleh masyarakat karena dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan sehari-hari. Tahun ini, meskipun terdapat ketidaksesuaian dalam penentuan tanggal, Kementerian Agama akan berupaya untuk membangun dialog yang konstruktif.
Di sisi lain, Muhammadiyah telah secara resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah akan jatuh pada 18 Februari 2026. Ini menunjukkan betapa pentingnya datum dan pendekatan yang beragam dalam menentukan waktu suci bagi umat Muslim.
Dengan adanya dua kemungkinan tanggal awal Ramadan, masyarakat diharapkan dapat saling menghormati pandangan yang berbeda. Terlepas dari perbedaan, nilai inti Ramadan tetaplah sama, yaitu meningkatkan ketakwaan dan menjalin kebersamaan dalam lingkungan sosial.
Meskipun perbedaan dapat menciptakan kebingungan, hal ini juga menciptakan kesempatan untuk berdiskusi dan mempertukarkan informasi. Dalam konteks ini, pemahaman yang lebih baik akan menumbuhkan toleransi di kalangan umat Islam.
















