Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang signifikan baru-baru ini. Pada tanggal 6 Februari, IHSG melemah sebesar 168,61 poin atau 2,08 persen, mencapai level 7.935, mengikuti tren negatif yang sudah terlihat dalam beberapa hari sebelumnya.
Selama periode tersebut, investor aktif melakukan transaksi saham dengan total mencapai Rp19,70 triliun, menggambarkan tingkat partisipasi yang cukup tinggi meski terjadi penurunan indeks. Jumlah saham yang diperdagangkan juga mencatatkan angka yang besar, yaitu sekitar 35,58 miliar lembar.
Dalam satu pekan terakhir, performa IHSG menunjukkan angka yang fluktuatif, dengan tiga hari mengalami penurunan dan dua hari lainnya meningkat. Hal ini menjadikan total penurunan IHSG mencapai 4,79 persen sepanjang pekan lalu, yang cukup mencolok bagi para pelaku pasar.
Pergerakan IHSG dalam Masa Ketidakpastian Pasar
P. H. Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia, Alit Nityaryana, melaporkan bahwa kapitalisasi pasar mengalami penurunan signifikan. Dari Rp15.406 triliun, angka tersebut turun menjadi Rp14,341 triliun pada pekan lalu, menunjukkan dampak dari ketidakpastian yang melanda pasar.
Volume transaksi harian juga menunjukkan penurunan yang cukup drastis. Rata-rata volume dari 63,3 miliar lembar saham kini turun menjadi 43,2 miliar lembar saham, sebuah indikasi bahwa investor mungkin lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi di tengah kondisi yang tidak menentu ini.
Nilai transaksi harian pun mengalami penurunan mencapai 43,45 persen, dari Rp43,76 triliun menjadi Rp24,75 triliun. Penurunan ini dapat menunjukkan bahwa minat investasi mengalami penurunan, yang tentunya berdampak pada likuiditas pasar.
Proyeksi dan Faktor yang Mempengaruhi IHSG
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memberikan proyeksi bahwa IHSG kemungkinan akan mengalami volatilitas tinggi untuk minggu mendatang. Dalam analisisnya, indikator Average True Range (ATR) mencapai level di atas 230, yang menandakan potensi pergerakan yang lebih luas untuk sisi support dan resistance di angka 7.780 hingga 8.128.
Faktor eksternal juga berkontribusi terhadap tekanan pasar. Terkait kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang melakukan freeze interim, serta penurunan rating oleh lembaga keuangan seperti UBS dan Goldman Sachs, menciptakan ketidakpastian yang signifikan di pasar.
Kekhawatiran lain juga datang dari Moody’s yang menurunkan proyeksi kredit Indonesia, menciptakan suasana negatif di kalangan investor. Hal ini membawa dampak langsung kepada arus keluar dana asing, dan investor semakin waspada terhadap perubahan yang mungkin terjadi.
Rekomendasi Saham untuk Investor
Oktavianus Audi mengemukakan beberapa rekomendasi saham yang patut dicermati dalam situasi ini. Salah satunya adalah saham PT Telkom Indonesia Tbk yang baru saja menunjukkan penguatan. Mengingat proyeksi yang baik, saham ini mungkin dapat mencapai level 3.530 pada minggu ini.
Selain itu, terdapat rekomendasi untuk saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, yang juga menunjukkan pertumbuhan. Proyeksi untuk AMRT adalah mencapai level 1.920, yang menggambarkan peluang positif meski kondisi pasar berfluktuasi.
Herditya Wicaksana, analis teknikal dari MNC Sekuritas, menilai pergerakan IHSG dapat menguat secara terbatas dalam sepekan mendatang. Dengan area support di 7.854 dan resistance di 8.168, situasi ini memberikan ruang bagi investor untuk memanfaatkan peluang yang ada.













