Perairan Selat Mulut Kumbang di Alor Kecil, Nusa Tenggara Timur, mengalami fenomena yang jarang terjadi, yakni penurunan suhu air secara drastis. Dari 28 derajat Celsius, suhu air laut bisa turun hingga 12 derajat Celsius, mengakibatkan ikan-ikan pingsan dan berpotensi merusak ekosistem laut.
Peristiwa tersebut dinamakan Extreme Upwelling Event (EUE), yang dipicu oleh beberapa faktor lingkungan. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa fenomena ini mempengaruhi kehidupan laut dan memberikan dampak bagi masyarakat setempat.
Achmad Sahri, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa EUE adalah peristiwa di mana massa air dingin dari kedalaman laut naik ke permukaan secara tiba-tiba. Hal ini menunjukkan dinamika ekosistem yang sangat unik.
Fenomena Langka: Apa yang Terjadi di Selat Mulut Kumbang?
Keunikan EUE terletak pada laju penurunan suhu yang drastis, mencapai sepuluh derajat Celsius dalam waktu singkat. Fenomena ini biasanya muncul selama pasang purnama, yang meningkatkan pergerakan air secara vertikal.
Menurut Anindya Wirasatriya, seorang guru besar di Departemen Oseanografi, fenomena ini memiliki dampak besar bagi ekosistem lokal. Suhu yang turun drastis diiringi dengan peningkatan salinitas air laut, menunjukkan interaksi antara air dingin dari kedalaman dan air permukaan yang lebih hangat.
EUE berlangsung antara satu hingga empat hari, dan dapat terjadi dua kali dalam sehari, mengikuti pola pasang surut. Fenomena ini unik dan penting untuk dipahami, karena dampaknya terhadap populasi ikan dan spesies laut lainnya yang ada di sekitar lokasi tersebut.
Proses Topografi dan Oseanografi yang Menyebabkan EUE
Menurut Anindya, dinamika topografi di Selat Mulut Kumbang menjelaskan mengapa EUE dapat terjadi di wilayah ini. Interaksi kompleks antara arus pasang surut dan arus laut dalam sangat berpengaruh terhadap fenomena ini.
Ketika pasang naik, arus membawa air dingin dari kedalaman laut, sementara arus hangat bergerak ke arah selatan. Terminologi ini menunjukkan bahwa karakteristik topografi sempit dan curam di daerah tersebut sangat mendukung terjadinya EUE.
Selain itu, periode terjadinya EUE sangat spesifik, biasanya antara Agustus hingga November, menunjukkan adanya pengaruh yang kuat dari sistem monsun tahunan. Hal ini memperkuat pentingnya penelitian lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor yang berkontribusi pada fenomena ini.
Dampak Terhadap Ekosistem Laut dan Keberlangsungan Hidup Ikan
Fenomena EUE ternyata berdampak langsung pada kehidupan laut. Penurunan suhu ekstrem menyebabkan ikan mengalami kejutan termal, sehingga mudah ditangkap oleh masyarakat sekitar. Hal ini menimbulkan pertanyaan etis terkait dampak jangka panjang terhadap populasi ikan.
Pengamat laut mengamati bahwa kondisi tersebut juga menarik perhatian mamalia laut lainnya, seperti lumba-lumba, yang memanfaatkan momen tersebut untuk berburu. Momen ini menciptakan interaksi antara spesies yang bisa berdampak positif maupun negatif bagi ekosistem.
Dengan pola kehidupan ikan yang terpengaruh, penting bagi masyarakat lokal untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut. Upaya konservasi dapat membantu mempertahankan keragaman hayati sekaligus memanfaatkan fenomena ini secara berkelanjutan.
Potensi Wisata dan Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan
EUE tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang signifikan. Fenomena yang langka ini dapat dijadikan daya tarik wisata ilmiah bagi pengunjung yang ingin menyaksikan keajaiban alam tanpa merusak lingkungan.
Wisatawan dapat mengamati mamalia laut dari tepi pantai tanpa mengganggu habitat mereka. Konsep wisata berbasis konservasi ini memungkinkan masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi sambil menjaga keberlangsungan ekosistem.
Pendidikan mengenai EUE juga dapat memberikan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian laut. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengeksplorasi potensi ekonomi, tetapi juga turut serta dalam pelestarian lingkungan.
















