Perusahaan perlengkapan olahraga terkemuka dunia mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja yang akan berdampak pada kurang dari satu persen dari total tenaga kerjanya. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi reformasi yang lebih besar untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menghadapi tantangan ekonomi yang terus berkembang.
Pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh perusahaan pada tanggal 29 Agustus tersebut menjelaskan bahwa pemutusan hubungan kerja ini hanya akan menyasar beberapa pegawai di kantor pusat, dan bukan pada tenaga kerja di sektor ritel. Dengan total sekitar 77.800 karyawan, jumlah spesifik pegawai yang terpengaruh masih dalam proses evaluasi.
CEO perusahaan mengungkapkan bahwa reformasi ini bertujuan untuk mengembalikan fokus pada olahraga dan budaya olahraga, serta memperkuat koneksi perusahaan dengan atlet dan konsumen. Hal ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk menghadapi perubahan kebutuhan pasar yang cepat.
Strategi Pemulihan Bisnis yang Dicanangkan CEO Baru
Pemutusan hubungan kerja ini merupakan salah satu langkah strategis dari CEO baru, Elliott Hill, untuk menyelaraskan struktur organisasi dengan lebih baik. Fokus utama perusahaan adalah membangun tim lintas fungsi yang dapat merespons dengan cepat terhadap tren dan kebutuhan di berbagai cabang olahraga.
CEO Hill sebelumnya menyampaikan bahwa fokus perusahaan akan kembali pada inovasi produk dan peningkatan pengalaman bagi konsumen. Hal ini diharapkan dapat membantu perusahaan dalam memperkuat posisinya di pasar yang semakin kompetitif.
Berdasarkan laporan, pemutusan hubungan kerja ini tidak akan mempengaruhi operasional di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Selain itu, merek lain dalam grup perusahaan juga tidak akan terdampak, termasuk merek Converse.
Dampak Ekonomi dan Cita-Cita Masa Depan
Langkah pemutusan hubungan kerja ini menjadi sorotan dalam konteks penurunan permintaan global yang dialami oleh banyak perusahaan. Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan ini telah melaporkan penurunan pendapatan, sehingga pengurangan jumlah karyawan dianggap sebagai langkah yang perlu diambil.
Sebelumnya, pada Februari 2024, perusahaan juga melakukan pemangkasan tenaga kerja sebanyak 2 persen, yang berdampak pada sekitar 1.600 orang. Keputusan tersebut diambil sebagai respons terhadap tantangan keuangan yang dihadapi, dan untuk menjaga keberlanjutan bisnis di masa depan.
Selain itu, perusahaan berencana mengurangi ketergantungan produksi di negara tertentu, seperti Tiongkok, untuk meminimalkan efek dari tarif impor. Langkah ini diyakini dapat membantu perusahaan menghadapi tantangan yang disebabkan oleh lingkungan ekonomi global yang tidak menentu.
Impak Keputusan Ini Terhadap Karyawan dan Budaya Perusahaan
Keputusan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja tentu saja akan membawa dampak emosional bagi karyawan yang terdampak. Meskipun perusahaan berkomitmen untuk memberikan dukungan selama masa transisi, perasaan cemas dan tidak pasti tetap menghantui banyak pegawai.
Perusahaan mengingatkan bahwa langkah ini diambil bukan karena kurangnya performa, tetapi sebagai strategi untuk beradaptasi dengan dinamika pasar. Hal ini diharapkan dapat memberikan peluang baru bagi perusahaan untuk tumbuh dengan cara yang lebih berkelanjutan.
Dari pengalaman sebelumnya, pemutusan hubungan kerja yang dilakukan pada bulan Februari memberikan pelajaran penting. Perusahaan belajar bahwa komitmen terhadap karyawan dan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan adalah kunci untuk bertahan di pasar yang sangat kompetitif.