Peningkatan angka kemiskinan di Indonesia menjadi isu yang sangat penting untuk diperhatikan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), beras hingga rokok menjadi penyumbang utama garis kemiskinan, yang terlihat dari jumlah penduduk miskin yang mencapai 23,36 juta orang hingga September 2025.
Data tersebut mengungkapkan bahwa beras memiliki kontribusi yang signifikan terhadap garis kemiskinan, dengan persentase yang tinggi di wilayah perkotaan dan perdesaan. Nilai tertinggi terlihat dari pengeluaran masyarakat untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok ini, menunjukkan betapa bergantungnya masyarakat pada produk dasar tersebut.
Tidak hanya beras, rokok kretek filter juga memberikan sumbangan besar dengan kontribusi yang tidak kalah penting. Sebagai salah satu komoditas utama, rokok menjadi salah satu indikator dalam memetakan kemiskinan di berbagai daerah.
Komoditas Utama Penyumbang Garis Kemiskinan di Indonesia
Kita tidak bisa membahas kemiskinan tanpa menyoroti komoditas yang paling berpengaruh. Komoditas seperti telur ayam ras dan daging ayam ras menyusul sebagai penyumbang garis kemiskinan di Indonesia. Produk-produk ini menunjukkan besarnya belanja masyarakat untuk kebutuhan pangan sehari-hari.
Misalnya, telur ayam ras memberikan andil 4,48 persen di perkotaan dan 3,71 persen di perdesaan. Ini sejalan dengan kebutuhan dasar masyarakat yang tidak terpisahkan dari protein hewani dalam diet mereka. Daging ayam ras juga mencatatkan andil yang hampir serupa, mempertegas pentingnya sektor pangan di tengah terjangan kemiskinan.
Selain itu, kopi bubuk dan kopi instan menunjukkan kontribusi yang lebih kecil namun tetap signifikan terhadap kemiskinan di masyarakat. Baik di perkotaan maupun perdesaan, kebiasaan mengonsumsi kopi menjadi bagian budaya yang tidak bisa diabaikan.
Faktor Non-Pangan yang Memengaruhi Garis Kemiskinan
Sementara itu, komoditas non-makanan seperti perumahan juga berperan besar dalam garis kemiskinan. Di perkotaan, kontribusi perumahan tercatat mencapai 9 persen, sedangkan di perdesaan sekitar 9,08 persen. Angka ini menunjukkan bagaimana tempat tinggal menjadi salah satu beban finansial bagi masyarakat, yang sering kali harus berjuang untuk mencukupi kebutuhan dasar.
Bensin dan listrik juga menambah dimensi baru dalam perhitungan kemiskinan. Kontribusi bensin sebesar 2,88 persen di perkotaan, sementara listrik menyumbang 2,65 persen, semakin menegaskan pentingnya infrastruktur dalam menentukan taraf hidup masyarakat.
Data ini mencerminkan bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi status ekonomi masyarakat, dan perhatian harus diambil untuk menangani masalah ini secara menyeluruh. Seringkali, kebutuhan dasar yang tampak sepele sebenarnya menjadi beban berat yang mengancam kestabilan ekonomi individu dan keluarga.
Penjelasan Tentang Garis Kemiskinan dan Angka Miskin di Indonesia
Garis kemiskinan di Indonesia merupakan indikator penting untuk mengukur taraf hidup masyarakat, di mana angka per September 2025 tercatat sebesar Rp641.443 per kapita per bulan. Angka ini memberikan gambaran jelas tentang batas minimum yang harus dipenuhi dalam memenuhi kebutuhan dasar terkait makanan dan non-makanan.
Dibandingkan dengan Maret 2025, garis kemiskinan ini mengalami peningkatan sebesar 5,30 persen. Angka ini menunjukkan bahwa terjadi kenaikan yang membuat kehidupan masyarakat semakin sulit. Ketidakstabilan ini perlu dicermati lebih lanjut agar kebijakan dan program bantuan dapat diarahkan dengan efektif.
Dengan lebih dari 23 juta orang yang terjebak di bawah garis kemiskinan, perlu usaha kolektif dari pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk menciptakan solusi jangka panjang. Semua pihak memiliki peran masing-masing dalam memerangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan.













